UMSIDA Conferences Series


Seminar Nasional Hukum Ekonomi Digital

Perkembangan ekonomi digital di Indonesia terus menunjukkan tren positifnya. Apakah hal ini kemudian diiringi dengan perkembangan hukum untuk mengawalnya?. Setiap langkah bisnis adalah langkah hukum, adalah adagium yang sering didengubngkan para akademisi hukum bisnis. Namun, apakah kenyataannya demikian. Indonesia dengan hukum tertulisnya yang terkesan lambat merespon perubahan zaman, apakah masih sinkron dengan adagium tersebut. Belum lunur dalam ingatan kita, bagaimana aparatur negara merespon aplikasi online yang mempertemukan pembeli dan penjual jasa, dan memvonisnya sebagai perusahaan transportasi, membuktikan bahwa masih kurangnya literasi teknologi digital dalam penegakan hukum di Indonesia.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan hal perlu kita bahas bersama, dan menjadi perhatian serius para akademisi huku, khususnya hukum bisnis. Mengingat dunia sekarang sudah memasuki masa Industri 4.0 dengan internet of things-nya.

Oleh karenanya, tema yang diusung dalam seminar nasional ini adalah "pembangunan hukum nasional di era ekonomi digital" dengan ruang lingkup adalah:

1. Aspek perlindungan konsumen dalam ekonomi digital

2. Aspek pidana dalam ekonomi digital

3. Aspek kontrak dalam ekonomi digital

4. Aspek penanaman modal dalam ekonomi digital

5. Aspek ketenaga kerjaan dalam ekonomi digital

6. Aspek perbankan dalam ekonomi digital

7. Aspek asuransi dalam ekonomi digital

View Conference

Seminar Nasional FISIP UMSIDA

Call For Paper

CITY BRANDING & TOURISM POLICY
BASED ON CULTURAL WISDOM IN INDONESIA

Pariwisata menjadi menjadi sektor yang disorot pemerintah saat ini dan diharapkan dapat
mendongkrak PDB Nasional, termasuk juga meningkatkan devisa negara. Mengutip amanat
Presiden Joko Widodo, pertumbuhan sektor pariwisata perlu dipercepat dan diakselerasikan
untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Implikasinya, pemerintah dalam program
pembangunan lima tahun ke depan fokus pada sektor; infrastruktur, maritim, energi,
pangan, dan pariwisata (Pikiran Rakyat, 2017).

Dalam data yang dikeluarkan oleh Badan Pariwisata Dunia (UNWTO) dan WTTC 2015, sektor
pariwisata memberikan kontribusi sebesar 9,8% Produk Domestik Bruto (PDB) global,
kontribusi terhadap total ekspor dunia sebesar US$ 7,58 triliun dan foreign exchange
earning sektor Pariwisata tumbuh 25,1%, dan pariwisata membuka lapangan kerja yang luas;
1 dari 11 lapangan kerja ada di sektor pariwisata.

Dibandingkan dengan sektor lain, pembangunan pariwisata merupakan yang paling mudah
menciptakan lapangan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor), mendorong
pertumbuhan ekonomi (pro-growth), dan melestarikan lingkungan hidup (pro-environment).
Dalam konteks ini, pariwisata memiliki prinsip “Semakin dilestarikan, Semakin
Mensejahterakan‚ÄĚ.

Prospek cerah pariwisata dunia itulah yang lantas menjadi acuan penetapan target
pariwisata nasional ke depan. Presiden telah menetapkan target pariwisata dalam lima
CITY BRANDING & TOURISM POLICY
BASED ON CULTURAL WISDOM IN INDONESIAtahun ke depan atau 2019 harus naik dua kali lipat, yakni; memberikan kontribusi pada PDB
nasional sebesar 8 persen, devisa yang dihasilkan Rp 240 triliun, menciptakan lapangan
kerja di bidang pariwisata sebanyak 13 juta orang, jumlah kunjungan wisman 20 juta dan
pergerakan wisnus 275 juta, serta indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di ranking
30 dunia.

Untuk mendukung upaya tersebut, salah satu hal yang dilakukan oleh pemerintah adalah
membangun City Branding Indonesia. Dalam berita yang dilansir oleh portal
www.beritasatu.com, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya di Jakarta, mengatakan
konsep branding dalam dunia bisnis sangat menentukan keberhasilan suatu perusahaan.
Oleh karena itu, banyak perusahaan mengalokasikan anggaran yang besar untuk
mempromosikan brand-nya ke masyarakat luas.

Begitupun dengan konsep brand pariwisata, dengan potensi penerapan otonomi daerah
serta meluasnya tren globalisasi saat ini, daerah pun harus saling berupaya untuk merebut
pasar, khususnya para wisatawan dan investor ke daerah masing-masing.

Itulah mengapa daerah pun membutuhkan brand yang kuat yang dibangun secara
terintegrasi melalui City Branding. Secara definisi, City Brand adalah identitas, simbol,
logo, atau merek yang melekat pada suatu daerah. Pemerintah daerah harus membangun
brand untuk daerahnya, tentu yang sesuai dengan potensi maupun positioning yang menjadi
target daerah tersebut.

Dengan kata lain City Branding merupakan seni cara mengemas dengan baik atau
membangun citra suatu kota menjadi suatu hal yang menarik dan layak untuk diunggulkan.
Elemen yang ada di dalamnya mencakup simbol dan logo yang dibuat untuk menampilkan
sesuatu yang menarik dan merupakan aplikasi gambaran dari sebuah kabupaten atau kota
yang akan di expose keluar, dan juga brand yang melekat pada suatu daerah, brand atau
merek itu adalah hasil dari perencanaan yang diinginkan untuk mengenalkan ke duniaglobal, apa dan bagaimana suatu kota.

Menurut Hermawan Kertajaya mengatakan, suatu daerah akan menarik untuk dijadikan
investasi dan berkembang dengan baik jika memiliki konsep ,TTI yaitu:

Travel, dengan adanya intensitas kunjungan wisata meningkat maka suatu daerah akan
meningkat juga pendapatannya juga sektor ekonominya akan hidup terutama bisnisnya. Dan
yang berhubungan dengan pariwisata, maka mau tidak mau akan banyak orang yang
melakukan transaksi bisnisnya apa itu perdagangan ataupun bisnis lainnya misal resot,
hotel dan yang menayngku dengan kemajuan wisata.

Trade, dengan semakin majunnya pariwisata maka segala sektor perdagangan akan hidup,
apapun perdagangan tersebut yang paling dominan pasti perdagangan yang bersinggungan
dengan pariwisata pastinya, bahakan bisa merambah ke real estate, properti, kuliner dan
segala macam sektor dagang, dan otomatis setelah orang melakukan deal deal bisnis
pastinya mereka juga akan melakukan wisata untuk menikmati keindahan dan kenyaman
suatu kota atau kabupaten.

Investasi, dengan adanya suatu daerah sudah menjadi tujuan pariwisata dan juga sektor
perdagangan menggeliat maka akan menjadi magnet siapapun untuk berinvestasi kesuatu
daerah tersebut, investasi pasti yang palng banyak adalah sektor perhotelan, sektor
pariwsata lainnya, sektor industri penunjang dan sektor perdagangan misalnya mall atau
pun pastinya realestate dan masih banyak lainnya lagi.

Dengan mengangkat permasalahan City Branding sebagai upaya untuk membangun
eksistensi dan jatidiri daerah yang ada di Indonesia, FISIP Umsida mengundang para
praktisi, pelaku pariwisata, maupun akademisi untuk menuangkan ide kreatif dan
pemikirannya dalam acara Seminar Nasional dan Call for Paper FISIP Umsida (SEMNASFI)
2017.

View Conference

International Conference of Intelectuals' Global Responsibility

ICIGR is a forum for the intellectuals from all area of expertise in sharing their views, thoughts, experiences, and ways forward in reaching out the social welfare and justice based on the progressive way of living. The development of human knowledge is not merely for the sake of knowledge itself but to make the life where we live insightful and enlightened. Intellectuals as a broad concept that covers scholars, academicians, researchers, practitioners, professionals, and experts in any disciplines of knowledge should have a critical concern on this issue. Their knowledge is a real power bringing responsibility that they must undertake with fully dedication. The ICIGR, in this context, gathers the intellectuals who have critical thought and responsibility to make a better sphere for the society to partake in the journey of making the world better and civilized.

View Conference